BANDUNG RAYA

Rumah Komuji, Bersama dalam Keberagaman

SEPERTI tak ada habisnya, Kota Bandung memang menyimpan banyak potensi generasi muda yang aktif dan kreatif dalam mengisi aktifitas kesehariannya. Sebuah rumah di Kawasan Jalan Cilaki nomor 33 Kota Bandung kini berubah fungsi menjadi tempat berkumpulnya para musisi yang tergabung dalam Komunitas Musisi Mengaji (Komuji).

Selain tempat beraktifitas, tepat di salah satu ruangan sampingnya, disediakan Kedai Kopi berlabel Kopi Komuji, yang menyediakan aneka kuliner serta tempat nongkrong yang nyaman dan mengasyikkan.

“Kami memang sengaja memfungsikan bangunan ini menjadi seperti sekarang, Rumah Komuji kami fungsikan, selain untuk memberikan ruang bagi para anggota untuk berdiskusi dan berekspersi, kami juga membuka pintu yang lebar bagi komunitas lain di Kota Bandung, untuk turut serta berkegiatan di tempat ini,” ungkap salah seorang penggagas Komuji, Egi Fauzi, Jumat (08 Februari 2019).

Egi mengaku dirinya bersyukur dan sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan oleh seluruh anggota, hingga akhirnya Rumah Komuji yang diimpikannya selama ini dapat terwujud. Menurut dia, Rumah Komuji bukan hanya tempat berkumpul, melainkan difungsikan juga sebagai etalase yang memajang karya para anggota, atau siapa pun yang ingin memajang produk mereka agar dapat terpublikasikan ke masyarakat.

Di ruangan depan Rumah Komuji, memang tampak etalase dan beberapa produk clothing yang dititipkan oleh beberapa anggota untuk dipajang di tempat ini. “Produknya masih belum banyak, karena kami masih menyosialisasikan keberadaan tempat ini kepada semua pihak yang ingin bergabung di Rumah Komuji,” papar Egi.

Di bagian lainnya tersedia ruangan yang nantinya akan difungsikan sebagai kelas literasi, berdiskusi atau melakukan kajian-kajian. “Selain kajian rutin yang bertemakan Agama Islam, kami juga membuka kelas literasi seperti les Bahasa Inggris, Disain Komunikasi Visual serta bidang-bidang lainnya,” katanya lagi.

Sedangkan Ruang tengah yang terbilang cukup luas, kata Egi, difungsikan menjadi berandakustik, sebagai wahana untuk sarana berekspersi, bermain musik atau melakukan kajian-kajian yang bertemakan dakwah sebagai salah satu cara mereka untuk mempertebal keimanan, serta menambah wawasan keagaman bagi para anggota dan yang lainnya.

“Sengaja kami bentuk Rumah Komuji ini seperti ini, karena sesuai dengan misi dan visi komuji serta makna filosofis yang terkandung di dalamnya, bahwa komuji bukan komunitas eksklusif melainkan komunitas yang sangat heterogen dengan berbagai macam latar belakang,”tegas dia.

Komuji, menurut Egi, memang lahir dari perbedaan, sehingga diantara para anggota sudah terbiasa menghadapi dan saling menghargai perbedaan. “Kami tidak alergi terhadap politik, karena anggota kami ada yang terjun ke dunia politik. Kami juga tidak memperdebatkan soal perbedaan mazhab, karena kami sangat menghargai keyakinan masing-masing anggota. Banyak kok perbuatan baik yang bisa dilakulan ketimbang memperuncing perbedaan dan saling menyalahkan. Berbeda? Woles aja deh,” jelasnya.

Egi menambahkan, saat ini Komuji mendapat dukungan yang positif dari kalangan akademisi dari beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung. “Bahkan dalam waktu dekat, kami tengah menjajaki kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Al Jabar Bandung dalam hal Akademik dan Penerimaan Mahasiswa Baru, serta aktivitas lainnya berupa diskusi terbatas yang bertemakan Ekonomi Syariah,” pungkasnya. *

Related Articles

Close
Close