EKONOMI

Ketoprak Finansial, Edukasi Menghibur Ala Tokoh Ekonomi Indonesia

SPOL,Jakarta,- Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail menjadi saksi bisu kemeriahan pagelaran ketoprak yang tidak biasa. Pasalnya, sejumlah tokoh seperti Gubernur Bank Indonesia Perry Warjito, Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BRI Suprajarto, Direktur Utama BTN Maryono dan Ekonom Aviliani beradu watak dalam sebuah lakon ketoprak bertajuk ketoprak financial berjudul “Prabu Siliwangi”.

Dalam pertunjukan selama hampir 2 jam tersebut, Gubernur BI Perry Warjito yang mengambil peran sebagai
Prabu Dewa Wastu Kencana, harus “bersitegang” dengan Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) M. Fadhil yang mengkritik kepemimpinannya.
Perseteruan panas panas pun terjadi tidak hanya kata-kata tapi juga kesaktian dimana perseteruan itu hampir saja menghancurkan negara Galuh Sunda.

Karena bertajuk, ketoprak finansial dan para pemainya adalah profesional di bidang ekonomi maka sejumlah edukasi tentang isu perekonomian diselipkan dalam sejumlah dialog. Dimana dalam kesempatan itu, Perry menyampaikan 3 hal yang mendasari BI, Lembaga Penjamkn Simpanan (LPS), Perbankan dan lembaga finansial lainnya ikut ambil bagian dalam pagelaran ini.

“Pertama, Komitmen sektor finansial untuk melestarikan budaya Indonesia, kedua komitmen membantu para budayawan Indonesia yang adiluhur dan ketiga memperkuat sinergi antarsektor, tidak hanya dalam konteks perumusan kebijakan, tetapi juga dalam memajukan budaya Indonesia.” Ungkal Perry dalam ketarangan resminya, Sabtu (09/03/2019)

Sementara itu dalam kesempatan berbeda, pengamat ekonomi dari Universitas Padjajaran Aldrin Herwany yang juga ikut bermain dalam ketoprak finansial itu mengaku tidak ada persiapan khusus. “Sebelum manggung, ada 2 kali latihan terlebih dahulu” ujar Aldrin saat dihubungi melalui pesan singkat.

Lebih jauh, Aldrin yang juga menjabat sebagi ketua Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI) cabang Bandung ini menegaskan bahwa kita harus maju kedepan dengan mengandalkan semua perubahan dunia yang cepat, tapi jangan sampai melupakan budaya tradisional yang dimiliki. “Kita bisa mengkombinasikannya, sehingga budaya daerah otomatis akan terlestarikan. Intinya kita harus mencintai dan melestarikan budaya tradisional Indonesia” tegasnya.

Aldrin menambahkan, pagelaran tradisional seperti ini banyak mengandung filosofi seperti persatuan itu penting dan diatas segala galanya. Sehingga, harapnya, melaui pertunjukan seperti ini masyarakat tidak hanya di jabar atau di jawa saja tapi juga di seluruh nusantara untuk bisa menjungjung tinggi persatuan. “Semakin sinergis, akan semakin memudahkan kita untuk membangung negeri ini. Pungkasnya. (Denny)

Related Articles

Close
Close