JAWA BARAT

Kusta Tidak Menular Melalui Makanan

SPOL.Bandung,- Banyak cara untuk mengikis stigma negatif masyarakat terhadap orang yang terpapar kusta. Bayangan umum masyarakat saat ini tentang penyakit yang diakibatkan oleh Bakteri Mycobacterum leprae—yang menyerang kulit dengan ganas hingga dapat membuat cacat anggota bagian tubuh ini dianggap sebagai penyakit kutukan, menjijikkan, menular dan patut dijauhi.

Tentu saja stigma tersebut, amat membuat pedih para penderitanya. Hal itulah yang membuat Abdul Mujib, pria paruh baya asal kabupaten cirebon tergerak untuk membantu dan sekaligus mengedukasi masyarakat untuk tidak menjauhi orang yang terpapar kusta.

“Tahun 2015, saya bertemu dengan ibu rantesih, dia berserta ke tiga anaknya terpapar kusta. Stigma negatif tentang kusta membuat Masyarakat menjauhi keluarga tersebut” ungkap mujib saat ditemui disela-sela kegiatan pelatihan perspektif disabilitas dan kusta bagi jurnalis di bandung.

Sebenarnya, ungkap mujib yang juga sebagai ketua forum komunikasi difabel Cirebon ini, ada banyak cara untuk mengedukasi masayarakat agar stigma negatif tentang kusta bisa terkikis. Salah satunya dengan mengadakan semacam gelar masakan dari Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

“Awalnya mungkin ada rasa hawatir dari masyarakat. Tapi setelah diberikan edukasi yang benar masyarakat masyarakat sedikit deminsedikit bisa menerimanya” tuturnya.

Mujid menambahkan, Hal ini pula yang pada awalnya dialami oleh keluarga ibu rantesih dan putrinya ibu rohayati yang kini berjualan bubur di kabupaten cirebon. Namun, berkat edukasi yang benar kini mereka sudah bisa berbaur kembali dengan masyarakat bahkan sudah punya usaha mandiri yang bisa menopang secara ekonomi.

“Dengan edukasi yang benar, mudah-mudahan stigma negatif masyarakat terhadap kusta bisa berkurang” pungkasnya.

Sementara itu dalam kesemptan yang sama, Technical Advisor Netherlands Leprosy Relief (NLR) wilayah Jawa Barat, Udeng Daman P tidak menampik jika kusta
adalah penyakit infeksi yang kronik dan menular. Kusta itu bukan penyakit turunan, tegasnya, namun penyakit menular yang sangat tidak menular. Mengapa? sebab proses penularannya hanya menyerang mereka yang kekebalan tubuhnya lemah dan itu pun berlangsung lama.

“proses penularannya sangat lama, bisa sampai 20 tahun. Namun, rata-rata dua sampai lima tahun” terangnya.

Saat ini, imbuhnya, masyarakat Indonesia masih menganggap kusta sebagai stigma dan menilai sebagai penyakit kutukan. Perspektif ini, kata, dia perlu diluruskan pasalnya kurang tepat. Sekadar bersamalam atau makan bersama penyandang kusta tidak akan menular. Kusta juga bukan penyakit kutukan.

“Bila penderita kusta ditemukan dalam keadaan dini maka pengobatannya mudah dan sembuh tanpa cacat karena obatnya sudah tersedia di puskesmas secara gratis” pungkasnya. (Dens)

Related Articles

Close
Close