JAWA BARAT

Bisa Sembuh, Kusta Bukan Akhir Dari Segalanya.

SPOL.Bandung,- Meski harus menghabiskan waktu hingga delapan ribu, tujuh ratus enam puluh jam. Namun Wiliamelina tidak patah arang untuk menggapai cita-citanya. Kini ia sudah bisa tersenyum lebar, kepercayaan dirinyapun tumbuh besar. Hal itu dibuktikan dengan memantapkan langkahnya untuk mendaftar di salah satu SMK di Kabupaten Subang.

Bagi meli, panggilan akrab wiliamelina, saat dinyatakan positif terpapar Bakteri Mycobacterum leprae bukanlah akhir dari segalanya. Harapan, impian dan cita-citanya menjadi penyemangat untuk bisa sembuh dan mengisi lembar demi lembar kehidupan dimasa datang.

“Secara tidak sengaja, mamah menemukan bercak putih ditangan. dan hal itu hampir mengaburkan impian saya” ungkap meli mengawali perbincangan saat ditemui di kabupaten subang. Ahad (07/07/2019)

Meli mengaku awalnya bercak putih itu dikira penyakit kulit biasa, namun setelah coba diobati tidak pula kunjung sembuh. hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan secara lebih seksama di puskesmas dan hasilnya dinyatakan positif terpapar kusta.

“Sedih, bingung dan berbagai rasa campur aduk, apalagi saat itu baru kelas 6 SD” ungkapnya.

Namun beruntung, meli meliki orang tua bijaksana serta tidak malu untuk bertanya kepada petugas kesehatan masyarakat yang rajin menyambangi warga didesa tersebut. Sahabat dekatnyapun turut serta membesarkan hati meli untuk tetap tabah, sabat dan iklhas untuk berjuang sembuh dari kusta.

“Kusta dapat disembuhkan” seperti kalimat sakti bagi meli untuk terus memompa semangat dan tabah melalui semua proses tahapan pengobatan. Meski harus menjalani puluhan, ratusan dan ribuan jam untuk bisa sembuh.

“Tanpa mengenal bosan, saya rajin minum obat, mengikuti pertemuan yang diadakan oleh puskesmas karena saya bertekad untuk sembuh” tegasnya.

Meli mengaku kekuatan tekadnya menjadi energi positif tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga untuk suspeck kusta lainnya untuk tetap bersemangat menjalani hidup dan berusaha semaksimal mungkin untuk sembuh.

“Obat sudah ada, dan bisa diperoleh secara gratis di puskesmas. Tinggal mau atau tidak untuk sembuh. Dan saya sudah selesai pengobatan atau sembuh tanpa cacat”

Meli menambahkan, kusta dapat disembuhkan, selain dengan pengobatan teratur, dorongan dari dalam diri dan peran aktif dukungan dari orang terdekat seperti orang tua, saudara kandung ataupun sahabat menjadi faktor penunjang lainnya.

“Saya contohnya, bisa sembuh dan akan membagi semangat ini kepada semua” pungkasnya.

Berjuang Tanpa Kenal Lelah

Bagi Etin, semangat meli dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) lainnya untuk bisa sembuh menjadi penyemangat tersendiri baginya saat mengembang amanah sebagai staf puskesma Sukarahayu Kabupaten Subang.

“Mencegah dan menanggulangi penyakit kusta, bukan semata – mata masalah medis, tapi juga skilologis dan ekonomi” ujar Etin kepada wartawan saat ditemui di Kabupaten Subang.

Etin mengaku tidak menyalahkan masyarakat, karena pengetahuan dan pemahanan masyarakat akan penyakit menular ini masih kurang dan banyak yang keliru. “Oleh karenanya perlu ada peran aktif dan jika perlu jemput bola ke masyarakat” terangnya.

Hal ini, ungkapnya, untuk mengikis stigma negatif, anggapan yang keliru tentang penyakit kusta sekaligus memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kecacatan yang timbul karena keterlambatan dalam pengobatan.

“Dengan perawatan dan pengobatan sedini mungkin, minum obat secara teratur OYPMK bisa sembuh tanpa kecacatan” tegasnya.

Etin tidak menampik jika di Kabupaten Subang khususnya di wilayah puskesmas tempatnya mengabdi, ada sejumlah pasien yang ditemukan setiap tahunnya. Hal ini tidak mengapa, karena kusta penyakit menular jadi harus dicari, disisir hingga kepelosok untuk segera ditemukan dan diberikan pengobatan.

“Sekarang sudah ada obatnya, dan bìsa disembuhkan” paparnya.

Etin menambahkan, pencegahan kusta memerlukan kerja sama yang konprehensif bersama semua pihak. Upaya serius seperti ini dilakukan untuk meningkatkan kesembuhan penderita dan memberika perhatian sehingga mempersempit penularan.

“Dengan pendampingan secara rutin, kekuatan tekad dan perhatian yang serius dari semua pihak, maka kabupaten subang tidak lagi menjadi endemis kusta” pungkasnya. (Dens)

Related Articles

Close
Close