728 x 90


<--!iklan -->

Revisi UU KPK Ditunda, Politisi PDI-P Tidak Sakit Hati ke Jokowi

  • Rubrik: Politik
  • 14 Oktober 2015 | 04:57 WIB
  • 00589
img

- Pengusul revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, Arteria Dahlan, mengaku dapat menerima keputusan Presiden dan DPR yang sepakat menunda revisi UU KPK.

"Kita harus menghormati. Kita terima dan apresiasi keputusan itu," kata Arteria.

Arteria mengatakan, sebenarnya fraksi PDI-P berniat melakukan revisi UU KPK dengan maksud dan tujuan yang baik.

Tidak ada maksud sedikit pun untuk melemahkan KPK. Kendati demikian, dia mengatakan bahwa PDI-P akan bersabar dan membahas revisi UU KPK ini di kemudian hari.

"Karena UU KPK ini sudah masuk prolegnas prioritas, tentunya ada pembahasan, tapi tidak sekarang. Karena sekarang fokus pemerintah adalah mengenai ekonomi," ucap dia.

Arteria tak menampik bahwa niat fraksi PDI-P merevisi UU KPK ini datang langsung dari pimpinan partai berlambang banteng itu.

Namun, dia tidak melihat Presiden Joko Widodo yang juga kader PDI-P, membangkang dari perintah partai karena meminta revisi ini ditunda.

"Saya pikir kita tidak melihat dari prespektif itu. Sebagai kepala pemerintahan tertinggi, Presiden kan punya hak prerogatif juga. Kami selalu menghormati. Tidak ada rasa sakit hati," ujar Anggota Komisi II DPR ini.

Arteria menambahkan, sambil menunggu waktu yang tepat untuk membahas revisi UU KPK ini, PDI-P akan turut menampung aspirasi masyarakat.

Menurut dia, draf revisi yang diusulkan dalam rapat Badan Legislasi, Selasa pekan lalu belum final dan masih dapat berubah.

Aspirasi mengenai revisi UU KPK nantinya bisa disampaikan langsung kepada fraksi, atau kepada alat kelengkapan dewan yang ada di DPR.

"Kami buka ruang bagi masyarakat untuk sama-sama mengawal revisi UU KPK ini," ucapnya.

Rencana revisi UU KPK diusulkan oleh 45 Anggota DPR dari enam fraksi dalam rapat Baleg, Selasa (6/10/2015) pekan lalu.

Dalam draf revisi yang diusulkan, diatur bahwa KPK bekerja selama 12 tahun setelah RUU tersebut diundangkan.

Selain itu, ada pula batasan bahwa KPK hanya bisa menangani kasus dengan kerugian negara minimal Rp 50 Miliar.

Kewenangan penyadapan KPK juga harus dilakukan melalui izin pengadilan. Kemudian, KPK diusulkan tak lagi menyelidik dan menyidik perkara korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum.

KPK juga nantinya akan memiliki kewenangan menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Terakhir, akan dibentuk juga lembaga pengawas untuk mengawasi kinerja KPK.

Namun dalam rapat konsultasi antara pimpinan DPR dan Presiden di Istana, Selasa, kedua belah pihak sepakat agar revisi UU KPK ini ditunda sampai masa sidang DPR berikutnya.

Poin yang akan direvisi juga mengerucut menjadi empat hal saja, yakni diberikannya kewenangan pada KPK menerbitkan SP3, diaturnya kembali kewenangan menyadap, keberadaan penyidik independen, dan dibentuknya badan pengawas KPK.(be/Kompas.com)