728 x 90


<--!iklan -->

Akankah Ahok Jadi Rebutan Parpol?

  • Rubrik: Politik
  • 15 Oktober 2015 | 07:55 WIB
  • 00947
img

- Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan peluang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk terpilih di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017, lebih tinggi dibanding para calon lawan.

Hasil ini tentu membawa angin segar bagi Ahok untuk memberikan posisi tawarnya kepada partai politik. Dalam hasil survei itu, terlihat warga DKI Jakarta rupanya masih menginginkan Ahok kembali memimpin. Kondisi ini terlihat dari hasil survei jawaban spontan (top of mind), 23,5 persen mereka memilih Ahok.

Tak hanya survei dari SRMC yang menyatakan Ahok akan kembali duduk sebagai orang nomor satu di ibukota. Survei Pusat Data Bersatu (PDB) menunjukkan sebesar 35,8 persen warga Jakarta akan memilih Ahok atau unggul jauh dari calon lainnya.

Lalu, Moncer di pelbagai survei akankah Ahok jadi rebutan Parpol?Pengamat Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubaidillah Badrun, menyatakan sesungguhnya Ahok bukanlah sosok yang akrab dengan partai politik manapun.

Pasalnya, mantan Bupati Belitung Timur itu tak memiliki komunikasi politik yang cakap untuk mengakrabkan diri ke partai politik. "Saya lihat komunikasi politik Ahok kurang baik, mungkin berat untuk gabung dengan partai politik," kata Ubaidillah.

Padahal, lanjut dia, untuk bertarung di Pilgub DKI tidak mudah untuk menang. Apalagi cara yang digunakan Ahok melalui jalur independen tentu riskan dilindas para calon dari partai politik. "Apalagi Pilgub sekelas Jakarta susah melihat minoritas menang melawan parpol," katanya.

Lantas, apakah Ahok lebih baik maju independen atau ditunggangi partai?Oleh sebab itu, dia menyarankan sisa dua tahun sebelum Pilgub DKI digelar, ada baiknya Ahok memperbaiki komunikasi politik.

Sehingga itu membuatnya menjadi akrab dengan parpol dan mendapatkan kendaraan agar bisa kembali duduk sebagai Gubernur.

"Sisa waktu 2 tahun ini Ahok bisa lakukan komunikasi politik dengan parpol, dia kalau maju independen berat, tak cukup andalkan relawan-relawan," tukasnya.

Lebih dari itu, Ahok diprediksi bakal sulit bila tetap ngotot maju sebagai calon independen dan harus bertarung calon yang diusung gabungan partai politik. Bahkan orang nomor satu di DKI itu bisa kalah.

"Kalau Ahok harus head to head dia akan sulit menang, tapi kalau ada calon lain, maka suara parpol akan terbelah mungkin baru Ahok bisa menang," tandasnya.

Sebelumnya, SRMC menyebut nampaknya calon petahana Basuki alias Ahok masih kuat dan tak mudah dikalahkan.

Para calon harus lebih kerja keras untuk dapat mengalahkan mantan Politikus Gerindra itu, terutama dengan melihat elektabilitas Ahok yang jauh potensial untuk kembali menduduki kursi nomor satu di DKI ini.

"Mayoritas responden memang belum menentukan pilihan akhirnya. Namun dari jawaban spontan, dia mendapat dukungan sebanyak 23,5 persen, sedangkan saingan terdekatnya M Ridwan Kamil 3 persen, Fauzi Bowo 2,1 persen. Calon-calon lain termasuk Tri Rismaharini dan Sandiaga Uno di bawah 2 persen," ujar Direktur SMRC, Djayadi Hanan.

Menurut dia, faktor yang mengunggulkan Ahok adalah evaluasi positif dari warga Jakarta terhadap kinerjanya. Mayoritas 64 persen menyatakan puas terhadap kinerja Ahok.

Masyarakat yang menilai baik atau sangat baik pelaksanaan pemerintah di bawah Ahok sebesar 46 persen dan yang menilai buruk 16 persen dan sisanya tak berkomentar.

Selain itu 85 persen menyatakan selama dipimpin Ahok pelayanan di kelurahan dan kecamatan menjadi baik. Kemudian 72 persen juga mengaku kinerja Ahok soal keamanan baik dan sangat baik.

"Penilaian positif juga diberikan responden atas sarana dan pelayanan seperti gedung sekolah (84 persen), kondisi jalan raya (73 persen), dan kondisi RS (87 persen)," papar dia.

Sementara itu, citra positif yang mendongkrak dukungan terhadap Ahok adalah perselisihannya dengan DPRD mengenai dana siluman beberapa waktu lalu. Sebanyak 47 persen yakin Ahok benar dalam kisruh itu dan 10 persen yakin DPRD lah yang benar.

Tak hanya itu, dukungan kepada Ahok dari segi agama juga lebih unggul dibanding penantangnya. Ahok memperoleh dukungan sebanyak 19 persen dari kalangan Islam. "Ahok di sini lebih mengungguli Ridwan Kamil 3 persen, Fauzi Bowo 2 persen dan Tri Rismaharini 2 persen," tambahnya.

Namun demikian, survei yang dilakukan pada Agustus lalu ini dinilai belum lengkap. Kehadiran Mantan Menpora Adhyaksa Dault yang mulai ramai justru tidak disertakan dalam survei ini.

Menurut Djayadi, hal itu disebabkan karena berdasarkan jawaban spontan warga DKI. Adhyaksa dinilai belum dikenal oleh warga DKI ketika survei sedang berlangsung.

"Ini berdasarkan jawaban spontan warga DKI. Adhyaksa kan belum diketahui kemunculannya. Justru warga sebut Jokowi dan nama lain yang sudah tidak mungkin lagi untuk dipilih," papar dia.

Survei SMRC yang dilakukan pada akhir Agustus 2015 ini dengan total 631 responden dengan menggunakan metode sampel Multistage random sampling dengan margin Error (MoE) berkisar kurang lebih 4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.(be/merdeka.com)