728 x 90


<--!iklan -->

Diperkirakan Harga Bahan Pokok Akan Terus Naik

  • Rubrik: Ekonomi
  • 03 Desember 2015 | 05:02 WIB
  • 00375
img

Kenaikan harga bahan pokok selama November 2015 masih mungkin terus berlanjut hingga akhir tahun jika pemerintah tidak segera melakukan langkah antisipasi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan stabilisasi harga pangan pada akhir tahun ini akan sangat tergantung bagaimana pemerintah menjaga pasokan.

Pemerintah memerlukan stok penyangga jika harga mengalami peningkatan. Tetapi di sisi lain, pemerintah juga mesti mengetahui berapa stok nasional yang ada.

Sekalipun buffer stock yang dimiliki pemerintah memadai, jika stok nasional tidak cukup tetap akan terjadi gejolak harga.

"Tetapi lebih parah kalau stok nasional tidak cukup dan pemerintah tidak punya buffer stock yang cukup," kata Enny.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebutuhan Pokok(SP2KP)Kementerian Perdagangan harga rata-rata beras medium nasional pada Rabu (2/12)masih bertengger tinggi di harga Rp10.638/kg.

Sementara harga daging ayam terus naik selama sebulan terakhir, harga 2 November 2015 yaitu Rp29.063/kg naik 8,40% menjadi Rp31.506/kg pada 2 Desember 2015.

Tren peningkatan juga terjadi untuk komoditas cabe merah besar rata-rata nasional dari posisi bulan lalu yaitu Rp23.791/kg menjadi Rp26.731/kg.

Pada November lalu, beras, ayam, serta rokok menyumbang kenaikan inflasi terbesar pada November 2015.

Untuk beras, Enny menilai, simpang siur data dari pemerintah memicu spekulasi yang menyebabkan harga menjadi fluktuatif.

Padahal, pemerintah memiliki instrumen sampai ke daerah yang seharusnya membuat pemantauan pasokan mestinya bisa dilakukan.

Menurutnya, selama komoditas-komoditas strategis tetap diberikan kepada mekanisme pasar, maka tidak mengherankan jika harga akan terus terkaget-kaget.

Persoalannya adalah pasar belum bekerja secara sempurna. Oleh karena itu, perlu kehadiran negara melaluibuffer stockuntuk komoditas yang dianggap penting.

Sementara untuk harga ayam yang terus mengalami peningkatan, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan fluktuasi harga ayam sebenarnya sudah menjadi sorotan sejak lama.

Daging ayam termasuk cukup mudah dan rentan bagi pihak-pihak tertentu untuk memainkan harga. Harga di RPH itu sudah cukup tinggi. Ini yang menyebabkan harga ayam sulit dikendalikan, kata Abdullah.

Padahal, menurutnya biaya produksi ayam dari bibit hingga siap panen sebenarnya cukup mudah untuk dikalkulasi. Seperti dalam masalah pakan misalnya, seharusnya kebutuhan selama satu bulan penggemukan bisa diperhitungkan.

Menurut Abdullah, memang ada beberapa faktor yang berkontribusi kepada kenaikan harga. Mulai dari bibit, hingga pakan yang memang sebagian besar masih tergantung pada impor.

Harga pakan tersebut juga berpotensi mengangkat harga ayam. Ini harus disiapkan agar harga tidak membumbung tinggi.

Pemerintah harus lebih serius untuk melakukan pengawasan dan intervensi jika ada pengusaha nakal yang mencoba memainkan harga dengan melakukan kecurangan.(be/Bisnis.com)