728 x 90


<--!iklan -->

Tiga Negara Percepat Pembentukan Pasar Karet Regional

  • Rubrik: Ekonomi
  • 04 Desember 2015 | 04:50 WIB
  • 00450
img

Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Thomas Lembong, memimpin pertemuan dengan Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Jenderal Chatchai Sarikulya, serta Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Datuk Amar Douglas Uggah Embas.

Ketiga menteri dari negara penghasil karet itu sepakat untuk mempercepat pembentukan pasar regional.
Peluncuran pasar karet regional yang semula direncanakan pada Juni 2016 akan dipercepat hingga tiga bulan lebih awal.

Untuk itu, pematangan pasar fisik akan dimulai di masing-masing negara. "Dengan adanya pasar karet regional ini, dapat membawa pengaruh positif bagi harga karet global," kata Tom Lembong.

Selain itu, pertemuan ini juga menyoroti langkah-langkah apa yang akan dilakukan tiap-tiap negara untuk bisa mendongkrak harga karet yang sedang rendah.

Salah satu kesepakatan yang telah dicapai dalam pertemuan sebelumnya di Kuala Lumpur, Malaysia adalah agar ketiga negara dapat meningkatkan penyerapan karet domestik hingga 10 persen per tahun.

Saat ini, konsumsi domestik ketiga negara ini baru mencapai 5,9 persen dari total produksi 1,58 metrik ton tahun lalu menjadi 1,67 metrik ton tahun ini.

Tahun depan, secara spesifik ketiga negara sepakat untuk menggunakan 300 ribu ton karet yang diproduksinya sebagai campuran aspal dalam proyek pembangunan jalan raya.

"Ketiga negara akan terus melanjutkan upaya untuk menggunakan karet untuk infrastruktur di dalam negeri," kata Tom Lembong.

Lebih lanjut, pertemuan ini juga menyepakati rencana kerja sama di bidang penelitian dan pengembangan untuk diversifikasi produk-produk berbasis karet alam.

 Jika selama ini karet alam digunakan sebagai bahan dasar ban kendaraan, nantinya akan semakin banyak produk berbasis karet alam seperti dock fender, campuran aspal, komponen pembuatan pintu air sampai ban pesawat terbang.

Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Datuk Amar Douglas Uggah Embas menyatakan, upaya untuk mengerek harga karet tak hanya untuk meningkatkan devisa negara, tapi juga penting untuk masyarakat di level bawah.

"Harga karet harus tetap berada di tingkat yang dapat memberi manfaat bagi petani yang menggantungkan hidup di sektor ini,” katanya.

Saat ini, rendahnya harga karet telah mempengaruhi penurunan pasokan global. International Rubber Study Group (IRSG) mencatat, stok karet global pada September 2015 adalah 2,8 juta metrik ton. Angka itu turun 12,5 persen dibanding September 2014 yakni 3,2 juta metrik ton.(be/Tempo.co)