728 x 90


<--!iklan -->

Warga Jabar Pesta Angklung di Gedung Sate

  • Rubrik: Lifestyle
  • 20 November 2017 | 09:02 WIB
  • 00067
img
BANDUNG -- Memperingati Hari Angklung Sedunia, atau Angklung's Day 2017, lebih dari 6.000 pemain angklung yang berasal lebih dari 150 sekolah, mulai tingkat TK hingga perguruan tinggi, berkumpul di halaman depan Gedung Sate Bandung. Sejumlah lagu daerah, lagu kekinian, serta lagu medley, dimainkan secara apik dan meriah.
 
Saung Angklung Udjo dan Keluarga Besar Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, menginisiasi pesta angklung dengan tema pada tahun ini, 'Karya Nyata Pemersatu Bangsa'.
 
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, Angklung's Day 2017 digelar untuk memperingati diakuinya angklung, alat musik khas Jawa Barat, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, 16 November pukul 16.20 waktu setempat, ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.
 
Oleh karena itu, Wagub Jabar Deddy Mizwar mengajak masyarakat untuk membantu melestarikan alat musik tradisional khas Jawa Barat, serta aktif menggiatkan acara terkait angklung. Supaya Angklung sebagai alat musik asli Jawa Barat tetap diakui dunia.
 
"Sudah tujuh tahun angklung menjadi warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh UNESCO. Ini akan dicabut andaikata kegiatan angklung tidak tumbuh dan berkembang di masyarakat, karena itulah kita selalu remainding (ingatkan) dengan kegiatan Angklung's Day," ungkap Wagub Deddy Mizwar, usai membuka kegiatan Angklung's Day 2017, di Gedung Sate Bandung, Minggu (19/11/2017).
 
Oleh karena itu tegas Deddy Mizwar, Angklung perlu dilestarikan, dijaga, dipelihara, dan diregenerasikan ke seantero nusantara.
 
Deddy juga menyebut, di era ekonomi kreatif saat ini, angklung memiliki nilai jual sebagai seni pertunjukan. Angklung dapat menjadi atraksi bernilai ekonomis yang dapat memajukan wisata nasional.
 
"Angklung juga jadi potensi besar pada era industri kreatif saat ini, yang bila dikembangkan akan bernilai ekonomi kalau dikemas dengan baik," ujar Deddy.
 
Dengan melibatkan para siswa sebagai peserta pada Angklung's Day kali ini, anak-anak muda diharapkan dapat mengenal dan mencintai budaya bangsa sejak dini. Sehingga tumbuh kesadaran untuk dapat melestarikan budaya itu sehingga tak hilang digerus zaman.
 
"Jadi bagaimana mendekatkan anak-anak tadi ada dari TK, SLB, SD, Tsanawiyah, dan semua jenjang sekolah hingga perguruan tinggi, supaya mereka mengetahui dan mengenal budaya sendiri yaitu angklung, jadi harus ditumbuhkan kebanggaan di jiwa generasi muda," kata Deddy Mizwar.
 
Angklung juga mengajarkan kesatuan dan kebersamaan, ungkap Deddy, seperti diketahui, angklung akan meriah ketika dimainkan lebih dari satu orang, karena satu angklung memiliki satu nada. Ketika konduktor memberi aba-aba untuk menainkan lagu tertentu secara bersama-sama, maka alunan musik angklung terdengar harmoni. Filosofinya, ketika sekolompok orang bersatu bersama-sama, maka akan tercapai cita-cita bersama yang diinginkan.
 
"Angklung sebagai instrumen musik legendaris di Indonesia bisa menjadi simbol persatuan dan kesatuan," katanya.