JAWA BARAT

Hadir di Kampus Widyatama, Ini Pesan Atalia Untuk Perangi Hoax

SPOL.Bandung,- Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil mengungkapkan jika perempuan terutama ibu-ibu memiliki peran penting dalam pemberian informasi yang akurat khususnya pada anak-anak.

“Peran inilah yang akan menjadi tembok penghalang hoaks dalam keluarga,” ujar Atalaia saat mengisi kuliah Umum dengan tema ‘Hoaks, Sosial Media, dan Perempuan dalam Revolusi Industri 4.0’ yang digelar Universitas Widyatama, Bandung, Senin (30/9/19).

Di era digital seperti sekarang ini, ungkapnya, peran perempuan atau wanita adalah diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam mencegah hoaxs, utamanya di lingkungan keluarga.

“Karena perempuan adalah sumber informasi dalam keluarga. Anak-anak menanyakan satu dan hal lainnya kepada orang tua, termasuk ibu. Sehingga informasi terbaik itu harus dari orang tuanya,” tegasnya.

Atalia menuturkan jika salah satu
peran dari perempuan atau wanita dalam keluarga adalah meningkatkan literasi keluarga, dan peran itulah yang akan menjadi tembok penghalang hoaks dalam keluarga. Menururnya literasi harus dibuka seluas-luasnya, karena literasi itu bukan hanya membaca dan menulis, tapi bagaimana kita mendengar, memaknai sebuah kata dan bagaimana kita mencerna itu adalah bagian dari literasi.

“saya berharap literasi di Indonesia khususnya di Jawa Barat ini terus ditingkatkan supaya kita betul-betul bisa menjadi generasi pembelajar. Generasi pembelajar tentu bisa tahan terkait hoaks,” ujarnya.

Atalia menambahkan, untuk mengidentifikasi sebuah informasi itu hoax atau bukan ada beberapa cara diantaranya berhati – hati dengan judul yang provokatif, memeriksa fakta dan keaslian foto serta cermati alamat isu.

“Hari ini, informasi yang masuk itu direspons terlalu cepat, sehingga tidak sempat untuk dikonfirmasi. Oleh karenanya sebelum kita tahu itu benar atau tidak, bermanfaat atau tidak maka kita jangan terlalu cepat menyimpulkan apalagi menyebarkan” pungkasnya.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Widyatama, Prof Obsatar Sinaga mengatakan di era digital saat ini menjadikan semua lebih mudah dan makin cepat dalam menerima berita dan kebutuhan informasi, namun dibalik kemudahan ada resiko yang cukup besar.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita mengenal istilah tabbayun, cek dan ricek informasi.

“Konsepnya tabbayun, kalo ada informasi kita harus tabbayun, cek dulu. Pertama benar atau tidak, kedua bermanfaat atau tidak, dan ketiga perlu di share atau tidak,” pungkasnya. (Dens)

Related Articles

Close
Close