BANDUNG RAYA

Krisis Air, PDAM Bakal Aktifkan Sumur Artesis

SPOL | BANDUNG – Krisis air yang masih terjadi di Kota Bandung mengakibatkan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirtawening bakal mengaktifkan kembali sumur artesis di 28 titik se- Kota Bandung.

Saat ini menurut Direktur Utama PDAM Tirtawening Sonny Salimi, dari 28 titik itu sebagaian besar sudah mati, dan hanya beberapa yang masih aktif. Itu pun debit airnya terus menurun.

“Sumur artesis yang kita kelola ada 28 titik. Yang akan kita bangun kembali ada 2 titik tipe AW 8 di jalan Industri dan jalan Sudirman. Alhamdulilah proses ijin nya sudah keluar tinggal dilelang dan ijin untuk yang lain agar bisa buat sumur artesis baru sedang proses,” jelas Sonny saat menyalurkan bantuan air di daerah Jl Jatayu I, Gang Hanura Rt/Rw 6/5, Kel Husein, Kec Cicendo, Kamis (11/10/2018).

Satu titik artesis kata Sony, bisa melayani 500-700 Kepala Keluarga (KK). Bahkan tergantung debit airnya jika besar bisa sampai 1000 lebih KK terlayani.

Lanjut Sonny, proses artesis ini masih butuh waktu, karena saat ini sedang proses lelang. Karenanya untuk tetap melayani pelanggan ataupun masyarakat di Kota Bandung yang membutuhkan air bersih, setiap hari PDAM menurunkan 29 armadanya. 29 tangki itu terdiri dari 7 tangki kapasitas 5000 liter dan 12 mobil pick up pengangkut HU kapasitas 2000 liter.

Seperti terlihat hari ini, pihaknya menyalurkan 7 tangki air bersih.

“Sebenarnya disini tiap hari dikirim. Dari sesudah lebaran idul fitri ya. Dulunya disini dilayani oleh artesis, artesis mati tidak ada alternatif lain, sementara kalau menunggu proses lelang butuh waktu. Jadi kita back up dulu dengan mobil tengki, mudah-mudahan bisa dibagi secara adil,” tandasnya.

Penyaluran air itu diakui Sonny gratis alias tidak dipungut bayaran. Kecuali jika masuk jaringan sistem sambungan maka dikenakan biaya.

Sonny kembali menegaskan bahwa debit air baku instalasi PDAM di Dago Pakar bersumber dari situ Cipanunjang dan situ Cileunya, Cikalong Kab Bandung saat ini menurun hingga 30-40% dari biasa 1800 liter per detik kini hanya produksi 1200 liter/detik.

Penurunan drastis itu mengganggu operasi turbin PLN. Dan karena rendahnya air yang ada, PLN pun sering mematikan operasi turbin sehingga otomatis pasokan air baku atau buangan air turbin ke PDAM turut berhenti.

“Disini yang terjadi gap. Kalau ke depan debit air masih juga turun, ke kita pun terdampak. Namun perlu dipahami PDAM itu bukan pembuat air, tapi pengolah ya. Kalau ada air baku ada yang kita olah, kalau gak ada jangan salahkan PDAM, makanya kita berdoa turun hujan disini dan di pusat air baku kita,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Sonny pun menerangkan jika komersial air yang dikeluarkan untuk bantuan gratis itu senilai Rp. 45 juta per bulan di kali kan 7 bulan atau total sekitar Rp. 315 juta.

“Per hari satu titik 7 tangki kali Rp. 225 ribu kali satu bulan kali 7 bulan silahkan hitung yang sudah kita keluarkan ini,” tuturnya.

Disinggung soal saran Wali Kota Bandung Oded M Danial agar memanfaatkan air limbah. Kata Sonny bisa saja akan tetapi butuh waktu biaya dan investasi instalasi pengolahannya terlebih dulu.

“Krisis air saat ini bukan terparah tetapi sama dengan tahun 2015. Krisis berlangsung sampai november bahkan akhir desember. Tapi mudah-mudahan tidak sampai begitu ya,” tutup Sonny.

Sementara itu warga sekitar Vani Putri Maulana mengaku krisis air di wilayahnya itu sudah terjadi dari sebelum bulan puasa 2018.

“Disini biasa pakai air sumur yang dikelola PDAM tapi sekarang kering. Jadi kalau gak ada bantuan gini ya beli Rp.1000 satu jaliken dan untukmu kami berlIma saya, suami, dan tiga anak kami biasa perhatian butuh 6 jaliken air, kalau air minum beda lagi beli yang galon Rp. 4000,” tutur warga yang sudah menyewa rumah selama 8 tahun di daerah itu.

Vani berharap air PDAM ngocor kembali ke rumah.

“Cape pulang kerja bukannya istirahat malam harus nungguin air, ya ingin normal lagi,” harapnya. (Vie)

SWARAPUBLIK | BANDUNG RAYA

Related Articles

Close
Close