SYARIAH

Adiwarman Karim Tertarik dengan Ekonomi Islam Sejak Kuliah

Ketertarikannya dimulai saat membaca teori pareto optimum dikarang Ali bin Abi Thalib

SPOL, JAKARTA — Berawal dari buku berjudul ‘Nilai-Nilai Dasar Ekonomi Islam’ yang ditulis dosennya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Adiwarman Azwar Karim mulai tertarik mempelajari ekonomi Islam. Sejak saat itu pula, pria kelahiran Juni 1963 tersebut terobsesi dengan segala macam buku soal ekonomi Islam. 

“Jadi saya masuk IPB tahun 1982, lalu 1983 ada mata kuliah Marketing manajemen, yang ngajar Profesor AM Saefuddin. Beliau bukan mengajar Marketing Manajemen malah ngajar Ekonomi Islam pakai buku yang ditulisnya, bukunya tipis cuma Rp 500 perak tapi nonjok,” tutur Adiwarman kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Meski mulai rajin membeli beragam buku tentang ekonomi Islam, ia mengaku belum membacanya karena belum mengerti. Pasalnya, buku-buku ekonomi Islam dahulu agak sulit dipahami karena bukan memuat mengenai ekonomi melainkan terkait ayat Alquran serta hadits. 

Dirinya mulai lebih banyak membaca soal ekonomi Islam saat tahun 1990 mendapat beasiswa kuliah di Boston University. “Di sana saya temui banyak disertasi dan jurnal tentang ekonomi Islam yang keren-keren menggunakan analisa matematika, sehingga saya tambah percaya diri kalau ekonomi Islam bisa diterangkan pakai bahasa ekonomi yang para ekonom biasa apresiasi,” tutur Adiwarman. 

Ia bercerita, saat belajar teori Pareto Optimum di Boston, tiba-tiba ada catatan kaki di buku yang tengah dibacanya. Catatan kaki tersebut tertulis kalau teori Pareto Optimum ditemukan pertama kali di kitab Nahjul Balaghah karangan Ali bin Abi Thalib. 

“Saya pikir, ini kelas internasional keuangan di Boston University, kok ada beginian? Maka semenjak itu saya terus gali, apa sebetulnya esensi dari ekonomi Islam,” ujarnya. 

Setelah itu, pria asal Sumatera Barat ini menulis disertasinya mengenai bank Islam. Lalu dirinya kembali ke Indonesia dan bekerja di Bank Muamalat. 

“Sejak saat itu pula saya tidak pernah lepas lagi dari dunia ekonomi Islam,” tegasnya. Terbukti hingga kini, Adiwarman tetap berkecimpung di bidang ekonomi syariah. 

Adiwarman menuturkan, saat mulai belajar mengenai ekonomi Islam, ia menemukan beberapa hal. Di antaranya, selalu ada keseimbangan antara sektor moneter dan riil dalam ekonomi syariah. 

“Jadi kalau ada uang pasti ada barang, sebaliknya pun begitu. Hal ini membuat ekonomi jadi stabil pertumbuhannya,” jelasnya. 

Ekonomi Islam, kata dia, juga sangat tidak ingin ada intervensi harga. Dengan begitu, pasar dibiarkan bertemu suplai serta demand. Meski kemudian, dikenal adanya intervensi pasar.

“Jadi no intervention but yes market intervention. Misalnya pada masa khalifah Umar bin Khattab, ada impor gandum karena kekurangan suplai, model-model seperti itulah,” tutur Adiwarman. 

Lebih lanjut, dirinya menerangkan dalam ekonomi Islam, sumber daya tidak didiamkan begitu saja. Hal itu karena, bila didiamkan dan tidak dimanfaatkan akan terkena zakat yang besar.

“Tapi kalau nggak dianggurin, maka kena zakatnya dari hasilnya,” katanya. Ia berharap, pada 2029 mendatang, Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi Islam di dunia. 

 



Sumber: Republika

Related Articles

Close
Close