JAWA BARAT

Ini 3 Cara Cegah Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa Ala Teddy Hidayat

SPOL.Bandung,- Tidak dapat dipungkiri jika kasus bunuh diri, khusunya dikalangan akademisi belakangan ini cukup marak. Meski kasus bunuh diri ini biasanya dilatar belakangi oleh masalah yang kompleks, namun sebenarnya tindakan tersebut dapat dicegah.

“Tindakan bunuh diri khususnya di kalangan akademisi, bisa dicegah dengan beberapa langkah yang bisa dilakukan” Ujar Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Teddy Hidayat dalam peringatan World Mental Health Day di Bandung, belum lama ini.

Langkah awal mencegah bunuh diri pada akademisi, ungkapnya, adalah  dengan melakukan advokasi pada pihak penentu kebijakan di Perguiruan Tinggi dan pada Pemerintah Daerah ( TPKJM=Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat ).

“Advokasi dilakukan agar pihak Perguruan Tinggi dan TPKJM mau mengakui bahwa masalah kesehatan jiwa termasuk bunuh diri adalah masalah yang memerlukan  perhatian dan berkomitment menanggulanginya” terangnya.

Selanjutnya, ujar Teddy, adalah melakukan assessment dan mengidetifikasi permasahan yang berhubungan dengan kesehatan jiwa termasuk bunuh dri di lingkungan kampus. Misal survey pada mahasiswa semester satu Perguruan Tinggi di Kota Bandung tahun 2019  ditemukan depresi 30,5 % dan berpikir serius bunuh diri 20% dan telah mencoba bunuh diri 6% ( cutting, loncat dari ketinggian dan gantung diri )

Buat alur rujukan dan pelayanan termasuk  pembiayaan mulai dari kampus sampai ke tempat pelayanan kesehatan jiwa, baik rawat jalan maupun rawat inap di Rumah Sakit.  Contoh telah ada Rumah Sakit yang memberi layanan kesehatan jiwa untuk mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan yang terjangkau  50 % jasa medik dokter dan 50 % obat-obatan) dan bagi yang keuangannya terbatas dibebaskan biaya jasa dokter dan obat-obatan termasuk semua biaya perawatan.

“Dari bulan Agustus sampai Oktober 2019 jumlah kasus yang dilayani ada sebanyak 30 orang dari berbagai Perguruan Tinggi di Kota Bandung” terangnya.

Teddy menambahkan, upaya  penting lainnya adalah pelatihan “Mental Health First Aid” atau Pertolongan Pertama Pada Krisis Mental dan  Bunuh Diri untuk masyarakat kampus. MHFA training yang telah dan akan terus dikembangkan adalah pelatihan singkat 8 jam atau 16 jam.

Pelatihan ini, ujarnya, dirancang bukan untuk melatih peserta menjadi terapis, tetapi memberi peserta pengetahuan mengenal tanda-tanda krisis mental ( perilaku bunuh diri, mencederai diri dan panik ), dan keterampilan membantu seseorang yang tengah mengalami krisis mental sampai dapat diatasi.

Materi pelatihan antara lain teknik wawancara ( empathic lestening), mengenal keluhan dan gejala gangguan jiwa dan krisis mental, intervensi krisis mental ( bunuh diri), manajemen stress / konflik termasuk mengatasi kemarahan diri dan orang lain dan sebagainya.

“Take Home Massage yang ingin disampaikan  adalah:” Pelatihan MHFA diperlukan dalam kehidupan agar peduli terhadap sesama dan membantu seseorang berperan menjadi mahasiswa, kolega, guru dan orang tua yang lebih baik dan lebih siap” pungkasya. (Dens)

Related Articles

Close
Close