BANDUNG RAYA

Karya Seni Kontemporer Cutting-Edge Jadi Pemenang BaCCA 2019

SPOL.Bandung,- Perjalanan seorang Soegeng Soejono di masa peralihan orde lama ke orde baru, menarik perhatian seniman muda Vincent Rumahloin.

Dimana, melalui karya fotografi seni dengan judul “Don’t Call Me Hero: Soegeng Soejono”, Vincent mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp.100 juta dalam ajang Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) #6 tahun 2019.

Terkait dengan hal tersebut, salah seorang
anggota Dewan Juri BaCAA #6, Asmudjo J. Irianto mengatakan, pada edisi #6, dewan juri memang cenderung memilih karya para Finalis BaCAA #6 yang menyajikan karya-karya naratif, landasan berfikir atau konsep karya yang lebih menyentuh persoalan sosial, individu juga sejarah hingga politik.

“Maka, BaCAA #6 makin kuat membranding anugerah dan kompetisi ini sebagai wadah kontestasi karya-karya dengan pilihan medium yang makin beragam, baik dari aspek pilihan material juga cara penyajiannya yang lebih eksploratif” ujar Asmujo di sela-sela malam anugerah karya seni rupa kontemporer, Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) di Lawangwangi Creative Space, belum lama ini.

Menurutnya, BaCAA dari tahun ke tahun semakin berkualitas, dimana melalui seleksi yang diperketat akan memberikan dampak pada kualiatas yang meningkat. “Sehingga tampaknya tahun ini mereka sangat serius untuk submit karya-karya ke BaCAA ini,” tuturnya.

Asmudjo menambahkan, minimnya jumlah aplikasi BaCAA #6 dibanding penyelenggaraan BaCAA sebelumnya menunjukkan sebuah kecenderungan bahwa para seniman muda Indonesia ini sudah melakukan self-selection. “artinya, bahwa para seniman muda di luar finalis BaCAA sudah melakukan pengamatan karya-karya dari alumni BaCAA” pungkas Asmujo.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, salah seorang anggota dewan juri lainnya, Wiyu Wahono mengatakan bahwa bahwa seni rupa kontemporer tidak memiliki batas dan memang harus keluar dari batas atau definisi seni. Sehingga BaCAA sebenarnya adalah arena kompetisi bagi seniman-seniman muda di Indonesia yang memproduksi karya-karya seni rupa kontemporer yang cutting-edge, bukan avant-garde yang selama ini salah dipahami.

“Jadi, kami di Dewan Juri memang memilih karya-karya yang seni kontemporer yang cutting-edge di BaCAA ini” pungkasnya.

Untuk diketahui bahwa dalam BaCAA #6 ini, Dewan juri tidak memposisikan juara pertama dan seterusnya, kali ini anugerah BaCAA #6 memposisikan tiga nama yakni
Vincent Rumahloine, Bandu Darmawan dan Audya Amalia sebagai seniman terbaik dari 15 Finalis yang sudah dipilih oleh seluruh anggota Dewan Juri BaCAA #6.

Adapun Vincent Rumahloine mendapatkan hadiah uang tunai 100 juta rupiah; Bandu Darmawan memperoleh hadiah berupa kegiatan Artist in Residen di Intermondes, La Rochelle, Perancis; serta Audya Amalia mendapatkan hadiah Art Trip selama satu minggu di Eropa atau di Amerika untuk mengunjungi museum seni, galeri, institusi seni juga pameran-pameran. (Dens)

Related Articles

Close
Close