EKONOMI

Kemarau Panjang, PLTA Lamajang Hanya Mampu Berproduksi 50 Persen

SPOL.Bandung,- Rusaknya sebagian hutan dan musim kemarau berkepanjangan membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajang, hanya mampu berproduksi 50 persen dari kapasitasnya.

“Pada musim kemarau produksinya turun 50%, hal ini diakibatkan oleh turunnya debit air dan tingginya sedimentasi di situ cileunca” ujar General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat Agung Nugroho kepada wartawan di PLTA Lamajang.

Akibatnya, ujar Agung, pihaknya terpaksa hanya mengoperasikan sebagaian turbin saja karena daya doronh air ke turbin yang berkurang. “Berhenti total tidak, hanya saat pola kering kita beroperasi separuhnya. Contohnya dari 12 jam, akhirnya berkurang 6 jam di beban puncak di jam 17 – 22.00” pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh manajer Sipil dan Lingkungan PLN UID Jawa Barat Novy Heryanto yang mengungkapkan
debit air di musim kemarau panjang selalu mengalami penurunan. Hal ini, terangnya, karena adanya kerusakan hutan di kawasan hulu.

“Lima tahun terakhir, berkurangnya debit air semakin terasa” ungkapnya.

Berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan itu pun terus dilakukan oleh PLN terutama penghijauan pada sejumlah lahan gundul.

“Kita kerjasama dengan BBWS Citarum, PJT Perhutani untuk menata kembali lingkungan. Selain itu kami juga melakukan pembinaan ke masyarakat sekitar,” terangnya.

Disinggung dengan adanya perpres penataan sungai citarum, Novi mengaku merasa bersyukur dengan terbitnya perpres citarum 2018 tersebut. Menurutnya, payung hukum ini akan mampu menekan kerusakan terutama menyangkut pencemaran sungai yang sangat memengaruhi kualitas air.

“Penanganan sedimentasi, pencemaran pabrik dikurangi. Harapannya menambah daya dukung PLTA,” harapnya.

Novi menambahkan, selain Lamajan, terdapat dua PLTA lain yang lokasinya berdekatan dan memanfaatkan sumber air yang sama yakni dari Situ Cileunca. Sebelum ke PLTA Lamajan, air dari danau buatan itu terlebih dahulu mengalir ke PLTA Plengan.

“Buangan air dari PLTA Plengan mengalir ke Lamajan lalu ke Cikalong. Dimana dari ketiga PLTA ini mampu memproduksi listrik hingga 45 MW. Ujarnya.

PLTA Lamajan ini, jelasnya hampir berusia 100 tahun sejak beroperasi pada 1925. Namun, pihaknya tidak berencana mengganti mesin turbin karena kondisinya yang masih bagus.”Ini memang sudah lama, tapi berkat sistem maintenance, masih bisa menghasilkan listrik,” ujarnya.

Komponen mesin, imbuhnya, masih banyak yang asli karena masa pakai yang sangat lama. “Generator pernah kita renovasi tahun 1994. Tapi masih ada yang zaman Belanda,” pungkasnya. (Dens)

Related Articles

Close
Close