SWARAPUBLIK – Di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang semakin kompleks, nama Harry Maksum muncul sebagai salah satu figur kunci dalam mendorong transformasi ekonomi syariah di Jawa Barat. Bukan sekadar pemimpin organisasi, ia menjadi motor penggerak yang membawa gagasan ekonomi umat ke ranah implementasi nyata.
Sebagai sosok yang kembali dipercaya memimpin Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Barat, Harry mengusung visi besar: menjadikan ekonomi syariah sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah—bahkan nasional.
Dari Konsep ke Aksi
Selama ini, ekonomi syariah kerap dipersepsikan sebatas sistem keuangan berbasis agama. Namun di tangan Harry Maksum, paradigma itu diubah. Ia menempatkan ekonomi syariah sebagai solusi sistemik yang mencakup keadilan distribusi, keberlanjutan usaha, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam berbagai forum, ia menegaskan bahwa ekonomi syariah harus menyentuh sektor riil, bukan hanya berkembang di sektor perbankan atau keuangan.
“Kalau ekonomi syariah hanya berhenti di bank, kita tidak akan pernah kuat. Kuncinya ada di sektor riil—UMKM, koperasi, dan industri halal,” menjadi salah satu garis pemikirannya.
Koperasi Syariah Jadi Senjata Utama Ekonomi Umat
Salah satu fokus utama kepemimpinan Harry adalah menghidupkan kembali peran koperasi syariah sebagai fondasi ekonomi rakyat.
Menurutnya, koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi alat distribusi kesejahteraan. Dalam konteks syariah, koperasi memiliki keunggulan karena berbasis pada prinsip keadilan, transparansi, dan bagi hasil.
Di Jawa Barat, dorongan terhadap koperasi syariah menjadi semakin relevan, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang membutuhkan akses pembiayaan yang adil dan terjangkau.
Model ini juga dinilai mampu menjadi penyangga ekonomi di tengah tekanan inflasi, ketidakpastian global, serta keterbatasan akses terhadap perbankan konvensional.
JIEF sebagai Panggung Konsolidasi
Peran Jabar Islamic Economic Forum (JIEF) X menjadi krusial dalam memperkuat arah kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.
Forum ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga ruang konsolidasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga komunitas ekonomi syariah.
Di sinilah berbagai strategi besar dirumuskan—mulai dari penguatan investasi syariah, digitalisasi ekonomi umat, hingga pengembangan industri halal yang terintegrasi.
JIEF menjadi bukti bahwa ekonomi syariah di Jawa Barat telah bergerak dari tahap wacana menuju tahap eksekusi.
Tiga Pilar Strategi: Investasi, Digitalisasi, dan Halal Value Chain
Dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang kuat, Harry Maksum menekankan tiga pilar utama:
1. Investasi Syariah sebagai Mesin Pertumbuhan
Investasi berbasis syariah menjadi kunci untuk mempercepat ekspansi sektor riil. Dengan prinsip bebas riba dan berbasis aset nyata, investasi syariah dinilai lebih stabil dan berkelanjutan.
2. Digitalisasi Ekonomi Umat
Transformasi digital menjadi keharusan. Harry mendorong pengembangan fintech syariah, platform digital UMKM, hingga integrasi sistem pembayaran halal untuk memperluas jangkauan ekonomi umat.
3. Halal Value Chain Terintegrasi
Ekonomi syariah tidak berhenti di produk halal, tetapi mencakup seluruh rantai nilai—dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Inilah yang disebut sebagai halal value chain.
Dengan pendekatan ini, ekonomi syariah tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga kekuatan ekonomi yang kompetitif.
Jawa Barat: Episentrum Baru Ekonomi Syariah Nasional
Sebagai provinsi dengan populasi muslim terbesar di Indonesia, Jawa Barat memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat ekonomi syariah nasional.
Dari sektor UMKM, industri halal, hingga ekonomi kreatif berbasis syariah, semuanya memiliki ruang untuk berkembang.
Harry Maksum melihat potensi ini sebagai peluang besar yang harus dikelola dengan strategi yang tepat—termasuk kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan komunitas.
Peran Generasi Muda dan Startup Syariah
Salah satu fokus penting dalam pengembangan ekonomi syariah adalah keterlibatan generasi muda.
Harry mendorong lahirnya startup berbasis syariah yang mampu menjawab tantangan zaman, mulai dari marketplace halal, fintech syariah, hingga ekosistem digital berbasis nilai Islam.
Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam membawa ekonomi syariah ke level yang lebih modern, inklusif, dan global.
Tantangan Besar: Literasi dan Implementasi
Meski memiliki potensi besar, ekonomi syariah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal literasi masyarakat dan implementasi di lapangan.
Banyak masyarakat yang belum memahami konsep ekonomi syariah secara utuh, sehingga diperlukan edukasi yang masif dan berkelanjutan.
Selain itu, integrasi antar sektor juga menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar ekosistem ekonomi syariah dapat berjalan optimal.
Lebih dari Sekadar Ekonomi: Gerakan Peradaban
Bagi Harry Maksum, ekonomi syariah bukan hanya tentang angka dan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, ini adalah gerakan peradaban yang bertujuan menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis nilai, ekonomi syariah diyakini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi berbagai persoalan ekonomi.
Arah Baru Ekonomi Umat
Kepemimpinan Harry Maksum di MES Jawa Barat menjadi penanda penting bahwa ekonomi syariah sedang memasuki fase baru—fase akselerasi dan implementasi.
Dengan strategi yang terarah, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan generasi muda, Jawa Barat berpeluang besar menjadi pusat ekonomi syariah nasional.
Dan di tengah dinamika tersebut, Harry Maksum berdiri sebagai salah satu arsitek utama yang menggerakkan roda perubahan—dari ekonomi berbasis konsep menuju ekonomi berbasis dampak nyata.***












